Princess Snow
"Dodi ingin kuciiiiiing!" rengek Dodi. "Tapi, nak, kita tak ada uang untuk membelinya," kata ibunya. "Jantan atau betina TERSERAH! Yang penting Dodi punya kucing," kata Dodi. "Bulunya terbang kemana-mana, Dodi," kata kak Yuna, kakaknya. Ayahnya kerja di Singapura, jadi, Dodi boleh merengek sepuasnya. "Dodi ingin kucing, Dodi ingin kucing, Dodi ingin kucing!" Dodi hanya mengulag-ulang perkataannya. "Waduh, Dodi.... duit ibu untuk bahan makanan, bukan untuk kucing," kata ibu. Dodi hanya mengelap air matanya. "Duuh, kamu, kan, udah naik SD kelas satu! Bukan TK lagi, Dodi... lagipula, apa gunanya kucing?" kak Yuna menampar pipi Dodi. "Iiiih, kakak jahat!" ujar Dodi. "Udahlah, kak. Bantu ibu nyuci piring," kata ibu. "Baik," ucap kak Yuna. Dodi menuju kamarnya. Andai saja, Ayah pulang cepat. Ayah, kan, punya banyak duit. Ayah baik! Boleh minta apa aja sama ayah. Ini, enggak! Kan, jahat! pikir Dodi. Dodi hanya membuka laptop miliknya pemberian ayah sewaktu ia ulang tahun. Kamputernya bagus, bewarna putih cerah dan laptopnya terkenal. mouse laptopnya lucu, bergambar spongebob. Juga tempat untuk mouse nya bergambar robot kesukaan Dodi.
"Dodi, makan malam, dulu, yuk!" kata kak Yuna, membuka pintu kamar Dodi. "Aku sudah kenyang!" kata Dodi, enggak peduli. Kak Yuna pergi. Ayah.... setahun lagi ayah pulang. Lama sekali, pikir Dodi, dalam hati. Dodi mengetik di diary yang ada di komputernya. Ia menulis:
Dear Diary,
Setahun lagi, ayah pulang. Aku harus menunggu lama. 2 hari lalu, aku sudah masuk SD kelas 1. Aku rajin membaca buku karena ceritanya ada yang bikin aku maju belajar. Kak Yuna sama ibu jahat banget, lho. Beli kucing aja, kan, seribu rebeng satu. Alasannya, untuk bahan makananlah, dekorasilah.... iiih, kejam! Udah dulu, Diary. Aku mau makan. Bye...
Dodi membuka pintu kamarnya. "Dodi, makan, yuk. Tuh, ada salad," kata ibu, ramah. "Dodi tetap benci!" kata Dodi. Kak Luna tiba-tiba marah. "Dodi! Enggak sopan, lho, sifatmu!! Sama orantua harus sopan. Ini, udah kakak bikinin salad, enggak terima!" marah kak Yuna. "Kakak ini!" Dodi langsung menggeram. Ibu hanya diam. dua bulan kemudian, ada UH Matematika. karena Dodi belajar, Dodi mendapar nilai 100. UH IPS, dapat nilai 100, IPA dapat 9,4, PKN dapat 100, B. Inggris dapat 100, Olahraga dapat 9,6, Al-Qur'an dapat 9,8, B. Indo dapat 100, B. Arab 100, Komputer 9,5, Seni Kebudayaan menyanyi 9,8, Praktek Ibadah 9,9. Dan, Dodi dapat rangking 1 di kelas. Begitu juga. Saat ujian kenaikan kelas 2, Dodi mendapat rangking Umum 1. Dodi mendapat piala besar. Ibu senang. Kak Yuna juga, berhasil kuliah. Ayah yang mendengar itu lewat i-Pad-nya, senang sekali. Pekerjaan ayah juga, selesai tidak sampai setahun. Ayah pulang membawakan kucing putih perempuan. Dodi tak tahu kalau yang ayah bawa itu adalah kucing. "Ayah, apa itu?" tanya Dodi. "Makhluk hidup," kata Ayah. "Iya, apa itu?" ulang Dodi. "Taraaaaaa!!!" ayah menampakkan kucing putih itu. Bulunya tebal, cantik, dan ada peralatannya untuk mebersihkan juga mendandaninya. Dodi senang bukan main. Dodi mengambil kucing itu. "Bulunya manis, berwarna putih bagai salju, dan Dodi menamakan Princess Snow aja!" kata Dodi. "Dodi punya kucing sekarang, kan? Enggak perlu rengek lagi," kata kak Yuna. Dodi mengangguk dan senang. Akhirnya, Dodi akan belajar lebih giat. Kak Yuna dan ibu juga tak repot memarahinya. Hemat suara, tenaga, dan ekspresi. (Haha).
By: Andi Levez
Tidak ada komentar:
Posting Komentar